MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN
TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN
![]() |
Disusun Guna Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Profesi Kependidikan
Dosen Pengampu : Drs. Edy Wiyono, M.Pd
Disusun Oleh :
1. Ahmad Hidayat Fauzi K2311002
2. Akbar Rokhim M K2311003
3. Bariqul Amalia N K2311011
4. Christina Ria E K2311014
5. Dina
Nur Adilah K2311019
6. Inge Banowati K2311036
7. Lia Aristiyaningsih K2311042
8. Naila Hilmiyana S K2311054
9. Suci Novira Aditiani K2311074
KELAS A
PENDIDIKAN
FISIKA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Kepemimpinan
merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi,
tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi
manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok
berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja,
namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Guna menyikapi
tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat
ketat dan tajam.
Sebuah
sekolah adalah organisasi yang kompleks dan unik, sehingga memerlukan tingkat
koordinasi yang tinggi. Untuk membantu para kepala sekolah di dalam
mengorganisasikan sekolah secara tepat, diperlukan adanya satu esensi pemikiran
yang teoretis, seperti kepala sekolah harus bisa memahami teori organisasi
formal yang bermanfaat untuk menggambarkan kerja sama antara struktur dan hasil
sekolah. Oleh sebab itu dikatakan bahwa” keberhasilan sekolah adalah sekolah
yang memiliki pemimpin yang berhasil..
Masalah
kepemimpinan pendidikan saat ini menunjukan kompleksitas,baik dari segi
komponen manajemen pendidikan, maupun lingkungan yang mempengaruhi
keberlangungan suatu pendidikan. Persoalan yang muncul bisa sepontan, bisa
berulang-ulang, makanya diperlukan interaksi yang kreatif dan dinamis antar
kepala sekolah , guru dan siswa.
Keberhasilan
pendidikan di sekolah juga sangat ditentukan oleh keberhasilan kepala sekolah
dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. Kepala sekolah
merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam meningkatkan
kinerja guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan
kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan
lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Hal
tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan
tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif
dan efisien. Dalam perannya sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah harus
dapat memperhatikan kebutuhan dan perasaan orang-orang yang bekerja sehingga
kinerja guru selalu terjaga.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian
kepemimpinan pendidikan?
2. Bagaimana
tipe-tipe kepemimpinan pendidikan?
3. Apa
faktor-faktor yang mempengaruhi
pemimpin pendidikan?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui arti
kepemimpinan
2. Mengetahui
tipe-tipe kepemimpinan pendidikan
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemimpin pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepemimpinan
Sebelum kita menjelaskan
secara komprehensif mengenai macam-macam tipe atau gaya kepemimpinan dalam
pendidikan, sudah seharusnya kita mengetahui pengertian dari kepemimpinan itu
sendiri. Agar nantinya memudahkan kita dalam memahami berbagai tipe
kepemimpinan, maka dari itu pada bagian awal kita jelaskan terlebih dahulu
mengenai pengertian dan hakikat kepemimpinan.
Davis (1977) mengartikan,
kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mengajak orang lain untuk mencapai tujuan
yang sudah ditetukan dengan penuh semangat. Selanjutnya kepemimpinan menurut E.
Mulyasa (2003) adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan
untuk pencapaian tujuan bersama atau organisasi. Menurut Mardjin Syam (1966),
kepemimpinan adalah proses pemberian jalan yang mudah (fasilitas) dari pada
pekerjaan orang lain yang terorganisir dalam organisasi formal guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Carter V. Good memberikan
pengertian yang lebih luas tentang apa sebenarnya hakikat kepemimpinan itu
dalam dua batasan yang menurutnya, kepemimpinan tidak lain daripada kesiapan
mental yang terwujudkan dalam bentuk kemampuan seseorang untuk memberikan
bimbingan, mengarahkan dan mengatur serta menguasai orang lain agar mereka
berbuat sesuatu, kesiapan dan kemampuan kepada pemimpin tersebut untuk
memainkan peranan sebagai juru tafsir atau pembagi penjelasan tentang kepentingan,
minat, kemauan cita-cita atau tujuan-tujuan yang diinginkan untuk dicapai oleh
sekelompok individu.
Pemimpin
pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi
perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam
kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengarahkan dan
mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan
yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan
hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Tiap-tiap
orang yang merasa terpanggil untuk melaksanakan tugas memimpin di dalam
lapangan pendidikan dapat disebut pemimpin pendidikan, misalnya orang tua di
rumah, guru disekolah, kepala sekolah di sekolah maupun pengawas pendidikan di
kantor pembinaan pendidikan dan di daerah pelayanannya. Kepemimpinan sangatlah
dibutuhkan dalam pembinaan pendidikan.
Secara
umum kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Kepemimpinan berarti kemampuan dan
kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi mendorong,
mengajak, menuntun, menggerakan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia
menerima pengaruh itu dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu
pencapaian sesuatu maksud atau tujuan-tujuan tertentu.
- Kepemimpinan
adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa
sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama.
Pengertian pendidikan itu bersifat universal, berlaku dan terdapat pada
kepemimpinan diberbagai bidang kegiatan atau hidup manusia.
Dalam
satu situasi kepemimpinan terlihat adanya unsur: orang-orang yang dapat
mempengaruhi orang lain disatu pihak, orang-orang yang mendapat pengaruh dilain
pihak, adanya tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai dan adanya serangkaian
tindakan untuk mempengaruhi dan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Dengan
demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara
pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota
dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya
dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat
mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin
suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan,
yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin
diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, karena
apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai
tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
Setelah
dipahami pengertian pokok tentang kepemimpinan, maka dapat dipersempit bahwa
kepemimpinan yang dimiliki oleh mereka dalam lapangan pendidikan.
Kata “
pendidikan” menunjukkan arti yang dapat dilihat dari dua segi yaitu: pendidikan
sebagai usaha atau proses mendidik dan mengajar seperti yang dikenal
sehari-hari. Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang membahas berbagai masalah
tentang hakekat dan kegiatan mendidik dan mengajar dari zaman ke zaman dan
mengajar dengan segala cabang-cabangnya yang telah berkembang begitu luas dan
mendalam.
Oleh
karena itu kepemimpinan pendidikan berperan pada usaha-usaha yang berhubungan
dengan kegiatan atau proses mendidik dan mengajar disatu pihak, dan pada pihak
lain yang berhubungan dengan usaha-usaha pengembangan pendidikan sebagai satu
ilmu dengan segala cabang-cabangnya.
Dengan demikian, hakekat
kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan
orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan.
Di sini nampak bahwa
unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam kepemimpinan pendidikan adalah (1)
Pengikut, (2) Tujuan, dan (3) Kegiatan mempengaruhi. Pemimpin yang efektif
adalah pemimpin yang anggotanya dapat merasakan bahwa kebutuhan mereka
terpenuhi, baik kebutuhan bekerja, motivasi, rekreasi, kesehatan, sandang,
pangan, papan, tempat tinggal, maupun kebutuhan lainnya yang pantas
didapatkannya.
Peran pemimpin dalam lembaga
pendidikan sebagai figur sangat diperlukan dalam mengambil kebijakan
dan keputusan sehingga berbagai persoalan dapat diatasi dalam keadaan yang
paling rumit pun. Hal-hal penting yang perlu dicatat mengenai komponen
kepemimpinan pendidikan adalah :
1). Proses rangkaian tindakan
dalam sistem pendidikan
2). Mempengaruhi dan memberi
teladan
3). Memberi perintah dengan
cara persuasif dan manusiawi, tetapi tetap menjunjung tinggi disiplin dan
aturan yang dipedomani
4). Pengikut mematuhi perintah
sesuai kewenangan dan tanggung jawab masing-masing;
5). Menggunakan authority dan
power dalam batas yang dibenarkan
Menggerakkan atau mengerahkan semua personel
dalam institusi guna menyelesaikan tugas sehingga tercapai tujuan, meningkatkan
hubungan kerja diantara personel, membina kerjasama, menggerakkan sumber daya
organisasi dan memberi motivasi kerja.
Dari
titik tolak itu dapatlah disimpulkan pengertian “ kepemimpinan pendidikan”
adalah sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan
menggerakan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembanga ilmu
pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan
yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian
tujuan-tujuan pendidikan.
B.
Tipe
Kepemimpinan dalam Pendidikan
Suatu organisasi akan berhasil atau gagal sebagian besar ditentukan
oleh kepemimpinan lembaga tersebut. Tipe kepemimpinan akan identik dengan gaya
kepemimpinan seseorang melaksanakan suatu kepemimpinan. Berbagai gaya atau tipe
kepemimpinan banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari–hari, termasuk di
sekolah. Walaupun pemimpin pendidikan khususnya sekolah atau madrasah formal
adalah pemimpin yang diangkat secara langsung baik oleh pemerintah maupun
yayasan, atau melalui pemilihan.
Ada lima tipe atau gaya kepemiminan menurut
Sondang P. Siagan, yaitu:
- Otokratis
Seorang pemimpin yang
otokratis:
a. Menganggap organisasi yang
dipimpinnya sebagai milik pribadi
b. Mengidentifikasikan tujuan
pribadi dengan tujuan organisasi
c. Menganggap bawahan sebagai
alat semata-mata
d. Tidak mau menerima
pendapat, saran, dan kritik dari anggotanya
e. Terlalu bergantung pada
kekuasaan formalnya
f. Caranya menggerakkan
bawahan dengan pendekatan paksaan dan bersifat mencari kesalahan/menghukum
- Militeristis
Seorang pemimpin yang
militeristis memiliki sifat-sifat:
a.
Dalam menggerakkan
bawahannya sering menggunakan cara perintah
b.
Dalam menggerakkan bawahan
senang bergantung pada apangkat/jabatannya
c.
Senang kepada formalitas
yang berlebih-lebihan.
d.
Menuntut disiplin yang
tinggi dan kaku pada bawahan
e.
Sukar memerima kritikan
atau saran dari bawahannya
f. Menggemari upacara-upacara
untuk berbagai keadaan.
- Paternalistis
Seorang pemimpin yang
paternalistis:
a. Menganggap bawahan sebagai
manusia yang tidak dewasa
b. Bersifat terlalu
melindungi (overprotective)
c. Jarang memberikan
kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan
d. Hampir tidak pernah
memberi kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif sendiri
e. Jarang memberikan
kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan kreasi dan fantasinya
f. Sering bersikap manatahu
- Karismatis
Ciri-ciri seorang pemimpin
yang karismatis:
a. Mempunyai daya tairk yang
sangat besar, karena itu umumnya mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya
b. Pengikutnya tidak dapat
menjelaskan, mengapa mereka tertarik mengikuti dan menaati pemimpin itu
c. Dia seolah-olah memiliki
kekuatan gaib (supernatural power)
d. Karisma yang dimilikinya
tidak bergantung pada umur, kekayaan, kesehatan atau apapun ketampanan
sipemimpin.
Contoh: mahatma Gandhi bukanlah seorang yang kaya, dan
bukan pula seorang yang gagah atau tampan.
- Demokratis
Pemimpin yang demokratis
memiliki sifat-sifat:
a. Dalam menggerakkan bawahan
berttitik tolak dari oendapat bahwa manusia itu makhluk yang termulia di dunia
b. Selalu berusaha untuk
menyinkronkan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dari tujuan
pribadi bawahan
c. Mengutamkan kerja sama
dalam mencapai tujuan
d. Memberikan kebebasan
seluas-luasnya kepada bawahan, dan membimbingnya
e. Megusahakan agar bawahan dapat lebih suskses
dari pada dirinya
f. Selalu mwngwmbangkan
kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Tipe demokratis merupakan tipe kepemimpinan yang paling
ideal, dan dianggap paling baik terutama untuk kepemimpinan dalam pendidikan.
Tipe kepemimpinan pendidikan yang secara luas dikenal dan diakui keberadaanya adalah :
- Tipe Otoriter (the
autocratic style of leadership)
Pada tipe kepemimpinan yang otoriter, semua kebijaksanaan
atau “policy” dasar ditetapkan oleh pemimpin sendiri dan pelaksanaan
selanjutnya ditugaskan kepada bawahannya. Semua perintah, pemberian dan
pembagian tugas dilakukan tanpa mengadakan konsultasi sebelumnya dengan
orang-orang yang dipimpinnya. Para anggota staf harus menerima policy dan tugas
tanpa ada kebebasan untuk menimbang baik buruknya akibat-akibat positif
negatifnya yang mungkin timbul padanya.
Pemimpin berusaha membatasi hubungan dengan anggotanya
hanya dalam keadaan formal. Pemimpin tidak pernah menginginkan hubungan yang
bersifat keakraban, keintiman dalam suasana ramah tamah.
Dalam memberikan penilaian atas prestasi dan cara-cara
kerja bawahannya yang berupa kritik atau pujian, maka yang dipakainya adalah
standard berdasarkan kriteria pribadinya sendiri.
Kebalikan dari sikap kebawahan, kalau berhubungan dengan
pihak atasannya ia menjilat, mencari muka, mencari nama baik sendiri dan bila
perlu menjelekkan atau mengorbankan anak buahnya. Salah satu contoh dari
kepemimpinan dalam tipe ini adalah kepala-kepala sekolah yang kurang mau
mendengarkan atau mengindahkan pendapat-pendapat, ide-ide, saran-saran dan
usul-usul yang konstruktif-kreatif dari guru-guru atau staf sekolah yang
dipimpinnya.
Seorang pemimpin yang
tergolong otoriter
memiliki serangkaian karakteristik yang biasanya dipandang sebagai
karakteristik yang negatif. Dengan istilah lain pemimpin tipe otoriter adalah seorang yang egois. Dengan egoismenya
pemimpin otoriter melihat
peranannya sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan organisasional.
Seorang pemimpin yang otoriter ialah seorng pemimpin yang :
1). menganggap organisasi sebagai milik peribadi
2). mengindentikan tujuan pribadi dengan tujuan
organisasi
3). menganggap bawahan sebagai alat semata-mata
4). tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat
5). tergantung pada kekuasaan formilnya
6). dalam tindakan pengerakannya sering
mempergunakan approach mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum;
Pemimpin bertindak sebagai
diktator, pemimpin adalah pengerak dan penguasa kelompok. Kewajiban bawahan
atau anggota - anggotanya hanyalah mengikuti dan menjalankan, tidak boleh
membatah ataupun mengajukan saran.
Kelemahan
1. Pemimpin yang otoriter tidak menghendaki rapat
atau musyawarah
2. Setiap perbedaan diantara anggota kelompoknya
diartikan sebagai kelicikan, pembangkangan, atau pelanggaran disiplin terhadap
perintah atau instruksi yang telah diberikan.
3. Inisiatif dan daya pikir anggota sangat
dibatasi, sehingga tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
4. Pengawasan bagi pemimpin yang otoriter hanyalah
berarti mengontrol, apakah segala perintah yang telah diberikan ditaati atau
dijalankan dengan baik oleh anggotanya
5. Mereka melaksanakan inspeksi, mencari kesalahan
dan meneliti orang – orang yang dianggap tidak taat kepada pemimpin, kemudian
orang – orang tersebut diancam dengan hukuman, dipecat, dsb. Sebaliknya, orang
– orang yang berlaku taat dan menyenangkan pribadinya, dijadikan anak emas dan
bahkan diberi penghargaan.
6. Kekuasaan berlebih ini dapat menimbulkan sikap
menyerah tanpa kritik dan kecenderungan untuk mengabaikan perintah dan tugas
jika tidak ada pengawasan langsung
Kelebihan
1. Keputusan dapat diambil secara cepat
2. Mudah dilakukan pengawasan
- Tipe laissez faire
(laissez-fair of leadership)
Laissez faire (kendali bebas)
merupakan kebalikan dari pemimpin otoriter. Jika pemimpin otoriter selalu mendominasi organisasi maka pemimpin laissez faire ini
memberi kekuasaan sepenuhnya kepada anggota atau bawahan. Bawahan dapat
mengembangkan sarannya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri dan pengarahan
tidak ada atau hanya sedikit.
Adapun sifat kepemimpinan
laissez faire seolah-olah tidak tampak, sebab pada tipe ini seorang pemimpin
memberikan kebebasan penuh kepada para anggotanya dalam melaksanakan tugasnya.
Disini seorang pemimpin mempunyai kenyakinan bahwa dengan memberikan kebebasan
yang seluas-luasnya bterhadap bawahan maka semua usahanya akan cepat berhasil.
Pemimpin yang seperti ini menafsirkan
demokrasi dalam arti keliru, karena demokrasi seolah–olah diartikan sebagai
kebebasan bagi setiap anggota untuk mengemukakan dan mempertahankan pendapat
dan kebijakannya masing-masing.
Tingkat keberhasilan
organisasi atau lembaga yang dipimpin dengan Gaya Laissez Faire semata-mata
disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota kelompok dan bukan
karena pengaruh dari pemimpinnya.
Dalam tipe kepemimpinan ini, pemimpin memberikan
kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap anggota staf didalam tata prosedur
dan apa yang akan dikerjakan untuk pelaksanaan tugas-tugas jabatan mereka.
Pendek kata garis-garis kebijaksanaan dan keputusan-keputusan tentang metode,
program kerja dalam penetepannya menjadi hak sepenuhnya daripada anggota
kelompok atau staf lembaga pendidikan itu.
Semua hal berlangsung tanpa dorongan dan bimbingan yang
metodis dan kontinyu daripada si pemimpin. Pemimpin seolah-olah berasa di luar
kelompok tanpa mau ikut serta, tanpa mau mencampuri, karena ia berpendapat
bahwa masalah-masalah itu adalah hak sepenuhnya daripada anggota staf kerjanya.
Pemimpin mau turun tangan bilamana diminta oleh anggota
staf. Apabila mereka meminta pendapat atau petunjuk pemimpin mengenai hal-hal
yang bersifat teknis, maka barullah ia mengemukakan pendapat-pendapatnya.
Tetapi apa yang dikatakannya sama sekali tidak mengikat anggota. Mereka boleh
menerima atau menolak sepenuhnya.
Dalam memberikan penilaian terhadap prestasi atau
pelaksanaan program secara umum jarang atau bahkan tidak sama sekali diberikan,
kecuali jika anggota memintanya. Ia berpendapat bahwa tugas pokoknya sebagai
pemimpin adalah menjaga dan menjamin kebebasan itu dan selanjutnya menyediakan
kebutuhan dan fasilitas materiil yang diperlukan anggota staf bagi kelancaran
kerja individu-individu anggota kelompok kerja itu.
Beberapa sebab timbulnya
‘’laissez faire’’ dalam kepemimpinan pendidikan Indonesia antara lain:
a. Karena kurangnya semangat dan kegairahan kerja
si pemimpin sebagai penanggung jawab utama dari pada sukses tidaknya kegiatan
suatu lembaga.
b. Karena kurangnya kemampuan dan kecakapan di
pimpinan itu sendiri. Apalagi jika ada bawahannya yang lebih cakap, lebih
pandai, lebih berbakat memimpin dari pada dirinya, sehingga si pemimpin
cenderung memilih alternative yang paling aman bagi dirinya dan prestise
jabatan menurut anggapannya, yaitu dengan memberikan kebebasan seluas luasnya
kepada setiap anggota staf, kepada kelompok sebagai satu kesatuan.
c. Masalah sulitnya komunikasi, misalnya karena
letak sekolah yang sangat terpencil jauh dari kantor, terpaksa bertindak
mencari jalan dan cara cara sendiri, sehinga system pendidikan atau tata
kerjanya mungkin sangat menyimpang atau sangat terkebelakang jika dibandingkan
dengan sekolah sekolah yang banyak mendapat bimbingan dari petugas petugas
Teknis Kantor Departemen P dan K.
Kelemahan
1) Pemimpin sama sekali tidak memberikan control
dan koreksi terhadap pekerjaan bawahannya.
2) Pembagian tugas dan kerja sama diserahkan
sepenuhnya kepada bawahannya tanpa petunjuk atau saran – saran dari pemimpin.
Dengan demikian mudah terjadi kekacauan – kekacauan dan bentrokan – bentrokan.
3) Tingkat keberhasilan anggota dan kelompok
semata – mata disebabkan karena kesadaran dan dedikasi beberapa anggota
kelompok, dan bukan karena pengaruh dari pemimpin.
4) Struktur organisasinya tidak jelas atau kabur,
segala kegiatan dilakukan tanpa rencana dan tanpa pengawasan dari pimpinan.
Kelebihan
1)
Keputusan berdasarkan keputusan anggota
2) Tidak
ada dominasi dari pemimpin.
- Tipe Demokratis (
democratic style of leadership)
Tipe demokratis berlandaskan
pada pemikiran bahwa aktifitas dalam organisasi akan dapat berjalan lancear dan
dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan apabila berbagai masalah yang
timbul diputuskan bersama antara pejabat yang memimpin maupun para pejabat yang
dipimpin.
Seorang pemimpin yang
demokratis menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga
mengambarkan secara jelas beragam tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan
demi tercapainya tujuan organisasi.
Kepemimpinan demokrasi selalu
menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompoknya. Berhasil tidaknya suatu
pekerjaan bersama terletak pada kelompok dan pimpinan.
Tipe ini sangat kontras dari
pada kedua tipe yang diatas, tipe ini mengambil manfaat dari peranan aktif dan
menentukan dari pada si pemimpin yang menonjolkan di dalam tipe otoriter dan
menarik faedah sebesar-besarnya dari partisipasi aktif serta kebebasan anggota
staf yang sangat berlebih-lebihan pada tipe laissez fair. Dalam suasana kerja
kepemimpinan yang demokratis sebagian besar atau hampir seluruh’’ policy’’ dan
keputusan-keputusan penting berasal dari dan disesuaikan dengan
tuntutan-tuntutan situasa kelompok, dimana pemimipin bersama-sama anggota
kelompok ambil bagian secara aktif di dalam perumusan dan penetapan policy
umum, keputusan-keputusan penting dan program lembaga kerja itu.
Anggota-anggota staf dengan
bantuan dana bersama-sama dengan pimpinan merundingkan program kerja dan
pembagian tugas masing-masing sesuai dengan minat dan kemampuan. Kepada setiap
anggota juga di berikan kebebasan yang cukup untuk memilih teman bekerja dalam
menyelesaikan usatu proyek atau untuk tugas tertentu. Pimpinan juga ikut serta
menjadi pelaksana program yang telah mereka putuskan bersama sesuai dengan
pembagian tugas-tugas yang di peruntukan baginya berdasarkan hasil-hasil
permupakatan yang mereka telllah setujui bersama. Pemimpin sejauh mungkin
menghindari dirinya dari terjerumus kepada ambisi popularitas pribadi.
Kekuasan daan tanggung jawab
didelegasikan dan di pencarkan/dibagikan kepada setiap anggota staf yang cukup
cakap dan mampu mengemban’’delegetion and sharing of authoriay’’ itu. Ia
percaya terus individu teman sekerjanya dapat pula berbuat sesuatu dengan yang
yang maksimal, asalkan situasi yang ada itu memungkinkan mereka untuk berbuat
dan membina karirnya masing-masing. Dalam memberikan penilain kritik atau
pujian ia berusaha memberikannya atas dasar kenyataan yang seobyektif
mungkin. Ia berpedoman pada kriteria-kriteria yang didasarkan pada standard
hasil yang semestinya dapat di capai menurut ketentuan target program umum
sekolah yang telah di tetapkan bersama.
Kelemahan
1) Proses
pengambilan keputusan akan memakan waktu yang lebih banyak
2) Sulitnya
pencapaian kesepakatan
Kelebihan
1) Dalam melaksanalan tugasnya, ia mau menerima
dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran – saran dari kelompoknya
2) Ia mempunyai kepercayaan pula pada anggota –
anggotanya bahwa mereka mempunyai kesanggupan bekerja dengan baik dan
bertanggung jawab
3) Ia
selalu berusaha membangun semangat anggota kelompok dalam menjalankan dan
mengembangkan daya kerjanya dengan cara memupuk rasa kekeluargaan dan
persatuan. Di samping itu, ia juga memberi kesempatan kepada anggota
kelompoknya agar mempunyai kecakapan memimpin dengan jalan mendelegasikan
sebagian kekuasaan dan tanggung jawabnya.
C.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pemimpin Pendidikan
Ngalim Purwanto (2004) menjelaskan beberapa faktor yang
mempengaruhi pemimpin pendidikan, berikut ini :
- Keahlian dan pengetahuan
Keahlian
dan pengetahuan yang dimaksud disini adalah latar belakang pendidikan atau
ijazah yang dimilikinya, sesuai tidaknya latar belakang pendidikan itu dengan
tugas-tugas kepemimpinan yang menjadi tanggung jawabnya; pengalaman kerja
sebagai pemimpin apakah pengalaman yang telah dilakukannya mendorong dia untuk
memperbaiki dan mengembangkan kecakapannya dan kerampilannya dalam memimpin.
- Jenis pekerjaan atau lembaga tempat
pemimpin itu melaksanakan tugas jabatannya.
Tiap
organisasi atau lembaga yang tidak sejenis memiliki tujuan yang berbeda, dan
menuntut cara-cara pencapaian tujuan yang tidak sama.
- Sifat-sifat kepribadian pemimpin
Kita
mengetahui bahwa secara psikologis manusia itu berbeda-beda sifat, watak, dan
kepribadiannya.
- Sifat-sifat kepribadian pengikut
Tentang
sifat-sifat kepengikutan, yaitu mengapa dan bagaimana anggota kelompok menerima
dan mau menjalankan perintah atau tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin.
BAB III
PENUTUP
Kepemimpinan berdiri di atas dasar kepercayaan. Saat kepercayaan
rapuh, maka pemimpinnya akan segera runtuh. Sama halnya dengan sebuah
kepemimpinan dalam pendidikan yang berdiri atas dasar kepercayaan. Maka
dari itu, hal yang paling mendasar dan terpenting ketika menjadi seorang
pemimpin adalah memberikan kepada anggota atau bawahannya. Karena dengan cara
seperti itulah seorang pemimpin akan disegani dan dihormati dalam sebuah
organisasi. Biasanya tipe kepemimpinan seseorang tergantung pada gaya orang
tersebut.
Carter V. Good memberikan pengertian yang lebih luas tentang apa
sebenarnya hakikat kepemimpinan itu dalam dua batasan yang menurutnya,
kepemimpinan tidak lain daripada kesiapan mental yang terwujudkan dalam bentuk
kemampuan seseorang untuk memberikan bimbingan, mengarahkan dan mengatur serta
menguasai orang lain agar mereka berbuat sesuatu, kesiapan dan kemampuan kepada
pemimpin tersebut untuk memainkan peranan sebagai juru tafsir atau pembagi
penjelasan tentang kepentingan, minat, kemauan cita-cita atau tujuan-tujuan
yang diinginkan untuk dicapai oleh sekelompok individu.
Suatu organisasi akan berhasil atau gagal sebagian besar ditentukan
oleh kepemimpinan lembaga tersebut. Tipe kepemimpinan akan identik dengan gaya
kepemimpinan seseorang melaksanakan suatu kepemimpinan. Berbagai gaya atau tipe
kepemimpinan banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari–hari, termasuk di
sekolah. Walaupun pemimpin pendidikan khususnya sekolah atau madrasah formal
adalah pemimpin yang diangkat secara langsung baik oleh pemerintah maupun
yayasan, atau melalui pemilihan.
DAFTAR PUSTAKA
Afifuddin,
H. 2005. Administrasi Pendidikan. Bandung : Insan Mandiri.
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Kepala Sekolah
Profesional. Bandung : Remaja
Rosdakarya
Sutikno,
Sobri. 2009. Pengelolaan Pendidikan. Bandung : Prospect.